• gambar
  • gambar

- SMK Negeri 1 Kelapa merupakan sekolah pertanian pertama yang menjadi LSP P1 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pencarian

Kontak Kami


SMK NEGERI 1 KELAPA

NPSN : 10900601

Jl.Raya Kelapa - Muntok Km 73 Desa Dendang Kec.Kelapa Kab.Bangka Barat 33364


info@smkn1kelapa.sch.id

TLP : 0813 7369 8570


          

Banner

Jajak Pendapat

Pembelajaran daring yang dilakukan SMK Negeri 1 Kelapa selama Covid-19?
Menyenangkan
Biasa Saja
Tidak Menyengakan
  Lihat

Statistik


Total Hits : 32981
Pengunjung : 15870
Hari ini : 3
Hits hari ini : 8
Member Online : 1
IP : 54.237.183.249
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Pena Menuju Sukses




Hembusan angin di pagi hari begitu kencang, tumpukan awan hitam mulai memenuhi di atas daerah tempat tinggal ku. Aku Raina permata indah, anak ke 2 dari 3 bersaudara, aku biasanya di panggil Raina, aku adalah siswi kelas 2 Smp  dan hari ini adalah hari ke 3 ketika ia memasuki semester baru di sekolah. Dan sepertinya awan hitam pun mulai menumpahkan isinya. aku pun merasa bersyukur. Walaupun hujan itu bukanlah penghambat Raina menuju sekolahnya, ia tetap berangkat ke sekolahnya dengan menggunakan jas hujan, sebelum berangkat ke sekolah aku sealau menghampiri kedua orang tuaku untuk meminta ridho, dengan mencium tangan orang tua dan memberikan salam aku pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, baru satu langkah aku menjauh dari teras rumah ku suara klakson mobil mengejutkanku. Dan ternyata itu adalah om Dodi yang akan menggantarkan anaknya Faiz, om Dodi mengajakku, tentu dengan cuaca seperti ini membuatku tidak menolak tawaran om Dodi, aku pun melepas jas hujan ku kemudian naik ke dalam mobil. Aku duduk di dekat Faiz yang sedang membaca komik.

 Faiz adalah anak om Dodi satu-satunya, di karenakan ia anak satu-satunya apapun yang di minta Faiz sealau di berikan. Tapi Faiz anak yang baik, ia pintar menyikapai semua pemberian orang tuanya. Yang selalu ia minta pasti berhubungan dengan masa depan dan sesuatu yang bisa menghibur. Ia berbeda dengan siswa lainnya ketika ia sudah mulai bosan dengan sesuatu yang ia lakukan maka ia akan melakukan olahraga misalnya berman bola basket dan lain sebagainya. Tidak seperti siswa lainnya yang ketika sudah merasa bosan dengan apa yang ia lakukan maka ia akan bermain game.

Pada saat di dalam mobil aku penasaran dengan komik yang ia baca, sehingga aku pun bersuara.

Aku “Faiz khusyuk amat bacanya, sampai nggak bersuara”

Faiz “Iya nih Na, yok ikutan baca, sini dekatan sedikit biar ke baca”

Aku “beneran boleh?”

Faiz “iya beneran”

Aku “maaf lho kalau aku ganggu”

Faiz “ah nggak kok, aku yang seharusnya minta maaf nggak ngajakin kamu baca, hhehe”

Aku “iya nggak apa-apa kok”

 Om Dodi pun tertawa mendengar kami berdua, Aku pun ikut membaca komik yang di baca Faiz, ternyata apa juga membuat ku terdiam karena ceritanya menegangkan. Tak terasa akhirnya kami pun sampai di sekolah.hujan sudah mulai reda, aku dan Faiz pun turun dari mobil. Sebelum memasuki sekolah kami memcium tangan om Dodi

Aku “ terimakasih banyak ya om” (sambil mencium tangannya)

Om Dodi “iya sama-sama”

            Kemudian kami menuju kelas, kebetulan kami sekelas jadi aku dan Faiz satu arah. Pada saat sampai di kelas, ternyata kelas masih kosong, dan hanya ada aku dan Faiz. Faiz langsung duduk di bangkunya begitupun dengan aku. Aku merasa tenang melihat keluar karena hujan akan segera reda.

Faiz “Na mau ikut baca lagi nggak”

Aku “nggak Iz makasih”

Faiz “ya udah nggak apa-apa”

Aku akan melakukan kebiasaan ku sebelum ada guru, aku akan bermin dengan pena dan satu buku. Setiap sebelum ada guru aku selalu membuat cerpen, puisi dan juga pantun, hasil karya cerpen ku masih ku simpan rapi di buku . Hobi ku menulis jad kemana pun aku selalu membawa pena. Karena hobiku menulis setiap ada pemilihan sekertaris kelas aku selalu mencalon kan diri. Dan aku pun selalu menjadi sekertaris walaupun bukan sekertaris utama. Satu cerpen kutulis kemudian tak terasa semua siswa sudah ada di kelas dan guru pun masuk ke kelas dan di mula lah proses belajar mengajar, setelah proses belajar mengajar selesai, bel istirahat pun berbunyi.

            Kami pun di persilahkan keluar terlebih dahulu oleh guru yang mengajar yaitu ibu Tiara, aku pun keluar bersama teman-teman ku yang lain. Yang tak aku lupakan adalah membawa pena, karena perut ku terasa begitu lapar sehingga aku lupa menaruh lembaran cerpen ku di dalam laci meja Setelah selesai membayar apa yang aku makan di kantin terdengar suara memanggil nama ku untuk menuju ke kantor, aku pun terkejut, sepanjang perjalanan ku menuju kantor semua teman memandangi ku, seolah-olah adalah siswa yang melakukan kesalahan besar. Sehingga aku pun merasa malu. Pada saat mendekati kantor aku melihat kertas kosong yang terbuang begitu saja, aku pun mengambilnya dan kemudian aku tuliskan apa yang rasakan. Ku tulis “Ada apa ini ya allah, apa yang aku lakukan sehingga aku panggil ke kantor dan menghadap guru, bantu aku ya allah”, setelah ku tulis apa yang aku rasakan aku pun melipat kertas tersebut dan memasukkan nya ke saku, kemudian aku masuk ke dalam kantor dengan rasa penuh ke khawatiran.

            Aku semakin khawatir ketika aku masuk dan melihat ekspresi ibu Tiara yang menatapku seloah penuh dengan rasa kesal.

Ibu Tiara “Raina kesini kamu”

Aku “iya bu.” (sambil sedikit meneundukkan kepala)

Kemudian aku berjalan menghadap bu Tiara, setelah tepat aku berada di hadapan ibu Tiara, ibu Tiara terdiam dengan tetepan heran dengan ku.

Ibu Tiara “Raina, kamu ini kenapa sih Na nggak kasih tau ibu kalau kamu itu suka buat cerpen, puisi dan pantun. Cerpen kamu yang di atas meja tadi bagus lho, kata Faiz kamu memang suka menulis, sehingga kamu suka membuat cerpen, puisi dan juga pantun, apa itu benar?”

dan ternyata ketika aku di kantin, ibu Tiara membaca lembaran cerpen ku yang ada di atas meja.

Aku “iya bu itu benar”

Ibu Tiara : “semua karya cerpen, puisi dan juga pantun kamu itu yang ada di rumah kumpul kan ke ibu besok, harus ya, dah sekarang kembali ke kelas sebentar lagi masuk jam pelajaran berikutnnya”

Aku “iya bu”

            Aku pun kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya sampai dengan waktu pulang. Ke esokan harinya aku tas ku terasa begitu berat karena kau membawa buku tebal dan besar yang berisi semua karya tulis ku. Setelah sampai di sekolah aku langsung menuju kantor dan memberikan buku tebal dan besar itu kepada ibu Tiara yang ternyata sudah menunggu.

Aku “ini bu”

Ibu Tiara “iya, makasih ya”

Ketika aku membalikkan badan ibu Tiara

Ibu Tiara “kamu nggak usah ke kelas Raina, kamu ikut ibu”

Aku “kemana bu?”

Ibu Tiara “ ke perlombaan membuat karya tulis, mau ya?”

Karena itu merupakan suatu dimana aku bisa mengetahuai seberapa mampu aku bersama pena ku berkarya aku pun menerima ajakan ibu. Di perlombaan pertama aku menang dan itu membuat ku sangat bersyukur. Di karenakan aku menang aku di tawarkan lagi oleh ibu Tiara untuk mengikuti lomba lainnya, tapi aku terpikirkan pelajaran ku di sekolah, dan hal itu aku katakan dengan ibu Tiara.

Aku “bu tapi bagaimana dengan pelajaran ku di sekolah?”

Ibu Tiara “kamu nggak usah khawatir ibu akan memberitahu kamu apa-apa saja yang di pelajari selama kamu ikut lomba, dan jika kamu nggak paham sama pelajaran itu kamu bisa tanyakan hal itu pada ibu.”

Jawaban ibu Tiara membuat aku tak bisa menolak untuk mengikuti lomba yang di tawarkan, beberapa kali aku ikuti perlombaan aku menang, itu membuat ku sangat bersyukur dan aku mengucapakan terimakasih banyak kepada ibu Tiara, bersama pena aku berkarya.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas